Tuesday, 26 January 2010

Rabbani...

Bismillah...

‘Umar tentu tak hanya mengutuk ketidakadilan, agar dipikulnya sendiri gandum untuk seorang wanita yang memasak batu di atas tungku. Ia dengarkan seksama kejujuran seorang gadis penjual susu. Ia uji baik-baik seorang gembala. Ia berlari-lari di tengah hujan mengejar unta zakat yang lepas. Mengapa kebijakan-kebijakan ‘Umar bisa begitu insani? Tentu karena ia lahir justru dari sistem dan pribadi-pribadi yang Rabbani. Rabbani-Insani, pasangan yang agung.

Maka ‘Umar memecat Khalid, ketika terasa ada sesuatu mulai tak beres di dada para prajurit; kultus. Tetapi dia juga menangis ketika Khalid meninggal, “Adakah wanita yang sanggup melahirkan lagi lelaki seperti Abu Sulaiman?” Dan ‘Umar tak mengijinkan para panglima mengelola tanah sekaligus membangun kota-kota militer di Bashrah, Kufah, dan Fustat, agar semangat ekspansif mereka tak tumpul. Tapi ia juga berharap perbukitan Khurasan menghalangi kaum muslimin dari musuh, dan menghalangi musuh dari kaum muslimin. Karena baginya, nyawa seorang mukmin begitu berharga untuk membangun dunia yang beradab. Ada penjagaan nilai Illahi, nilai perjuangan, sekaligus nilai kemanusiaan dalam tiap kebijakan yang dibuatnya. Dan memang, ‘Umar tidak memerintah atas nama Tuhan. Ia, dan bahkan pendahulunya berpidato di saat pengangkatan, “Aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Jika aku benar, maka dukung dan bantulah aku mengemban amanah ini. Jika aku salah, maka jangan ragu untuk meluruskanku!”

Dalam Jami’ul Bayaan fii Ta’wilil Quraan, Al-Imam Ibnu Jarir Ath Thabari menyebutkan lima hal yang harus dimiliki oleh seorang Rabbani.

-----------------------

Namun saya akan menuliskan pada bagian keempat saja di sini. Tafadhol mencari angka satu, dua, tiga dan lima-nya, atau jika teman-teman fillah berkenan, saya akan menuliskannya di sini saat terluang kembali waktu yang terjaring (lhah, kaya diplomat aja sok sibuk, hehehe...).

-----------------------

Al Bashirah bit Tadbir

Seorang yang Rabbani juga memiliki kedalaman pandangan dalam hal manajemen. Dia tahu bagaimana menempatkan suatu sumberdaya pada posisi yang tepat. Didasari hal inilah, mungkin, Rasulullah tak pernah mengangkat ‘Umar ibn Al Khaththab menjadi komando satuan pasukan besar. Bukan dia tak mampu. Tapi model seperti ‘Umar akan mementingkan mencari kematian syahadah daripada kemenangan yang dipimpinnya. Khalid ibn Al Walid berbeda. Saat dipecat dari kedudukan sebagai panglima ia berujar, “Kini aku bebas mencari kematian. Kemarin ketika menjadi panglima, tentu kupikirkan pasukanku. Kini aku berpikir tentang diriku sendiri, dan ia merindukan surga.”
Kalau bukan karena dia panglima, Khalid mungkin tak perlu mematahkan sampai 13 bilah pedang dalam perang Mu’tah.

Demikian juga, pandangan tajam menajerial Nabi membuat beliau langsung menunjuk ‘Amr ibn Al ‘Ash beberapa saat sesudah dia masuk Islam untuk menjadi komandan satuan yang di dalamnya bergabung para sahabat senior termasuk Abu Bakr dan ‘Umar. Malamnya, saat mereka berkemah, tiba-tiba ‘Amr memerintahkan semua memadamkan api.

‘Umar tersinggung. Terlihat olehnya pasukan itu kedinginan, dan beberapa yang lain sedang memasak makanan.
“Tidak, jangan matikan apinya!”, seru ‘Umar.
Abu Bakr yang ada di sampingnya langsung menegur, “Wahai ‘Umar, dia pemimpin yang ditunjuk Rasulullah untuk kita. Taatlah pada Allah, Rasul-Nya, dan pemimpinmu!”

‘Umar masih menggerutu. Tetapi beberapa saat kemudian dia menyadari ‘Amr benar. Bunyi ringkik dan tapak kaki kuda patroli musuh, ratusan agaknya, terdengar begitu mengerikan. Tetapi kafilah patroli itu lewat saja. Maka Abu Bakr pun tersenyum padanya.

Hari berikutnya, ‘Amr memerintahkan pasukannya berhenti di luar perkampungan kabilah yang akan diserang.
“Aku akan masuk. Jika aku tak kembali hingga mentari tergelincir, kalian serbulah ke dalam!”
‘Umar protes lagi.
“Jika kau ingin syahid, kami semua juga! Tetaplah kita bersama!”

Dengan lirikan, kembali Abu Bakr mengingatkan ‘Umar. Dan ‘Umar pun patuh. Beberapa waktu kemudian, ‘Amr telah kembali bersama pemimpin kabilah yang telah masuk Islam bersama pengikutnya, atas diplomasi ‘Amr. Kabilah itu tunduk, tanpa setetes darahpun tertumpah.

Seandainya jadi Abu Bakr mungkin saat itu kita akan berkata pada ‘Umar, “Nah. Gua bilang juga apa?”

----------------------

Ah, alangkah indahnya tatanan para sahabat...
Saling menyempurnakan dalam sikap...
Kala satu sama lain tak punya hal yang sama, maka dukungan dan ingatan selalu tersampir untuk dibagikan kepada yang lainnya. Mungkin biasa... apalagi saat ini, banyak ingatan tanda cinta dari yang lain, dianggap sebagai sesuatu yang mematahkan semangat atau mengolok. Jika cinta ini bukan karena Allah, tak akan mungkin... ingatan begitu mendalam untuk diberikan agar siapapun tak berada dalam keputus asaan atau berada dalam jurang kepahitan dan kemungkaran.

Maka... kesempurnaan adalah memberi satu sama lain yang berbeda.. bukan untuk dicari dan diminta...
Maka keindahan ukhuwah itu, karena satu dengan yang lainnya menyatu dalam kebenaran... mentarbiyah diri dan yang lain bersama-sama...
Ah, rindunya saya pada suasana itu... rindu pada perjuangan yang belum berakhir ini... untuk lebih baik lagi... segera, dan cepat terlaksana... namun bukan tergesa... melainkan berstrategi... agar celah harapan selalu menancap di ingatan dan mata. Lalu menelisik tajam ke dalam hati...

Duhai Rabbi...
Ijinkanlah perjuangan ini... ijinkan generasi Rabbani, mengisi dan mencahayai kegelapan yang bertebaran di sekitar... maka ini adalah karena Engkau... tak akan berpaling sedikitpun...
Semoga hati-hati kami berada dalam ketulusan yang sentiasa berada di jalan Engkau... bukan dalam kemungkaran yang mendapatkan neraka Engkau...
Amiin Allahuma amiin...

-----------------------

Kita melangkah seiringan... satu perjuangan...
(Brother)


*Catatan kesekian dari buku yang menginspirasiku dari milik Salim Akhum Fillah.
By. Syafalikah Azizah

readmore »»  

bentuk berbagi...

Bukan karena hari ini masih di Samarinda untuk mengikuti MUSWIL FLP Kaltim, hingga semalam ini saya belum tertidur, melainkan ada yang belum sempat saya tuliskan di sebuah catatan hari dalam pelajaran kehidupan. Saya takut terlupa menulisnya, hingga akhirnya tidak dapat berbagi cerita dengan yang lain. Mungkin kisah ini tidak banyak berhikmah bagi siapapun, tapi sungguh cukup indah untuk saya kenang.

Sore itu sepulang kerja sebelum keberangkatan ke Samarinda untuk acara MUSWIL FLP Kaltim, saat sedang berada di depan rumah sambil memakan jeruk beberapa potong, datanglah seorang anak laki-laki kecil tetangga dekat berbaju koko warna coklat muda.
"Mbak, mau beli..."
"Oh iya, mo beli apa, dik?"
"Beli asam dan garam..."
"Siapa suruh...?"
"Disuruh ibu..." jawabnya sambil memberikan uang pas untuk barang yang dibeli.
"Ibu siapa...?" tanya saya masih mencandainya.
"Ya ibu..." jawabnya sambil tersenyum seperti biasa.
"Tunggu, ya..." jawab saya sambil masuk rumah mengambil kunci warung.
"Mau jeruk?" tanya saya setelah mengambil kunci dan ingat masih memegang jeruk yang masih tersisa banyak di tangan.
"Iya, makasih..."

Saya segera membuka warung dan mengambilkan barang yang dimaksud, tapi mata saya masih tetap berputar ke anak laki-laki tadi. Sambil memasukkan barang ke dalam tas plastik, saya mendengar dia bicara, "Kutaruh di saku dulu, ah. Untuk bapak dan ibu, pasti mereka senang..."

Subhanallah...
Saya sangat tahu, sebelum memasukkan jeruk itu ke dalam saku bajunya, ia ingin sekali memakannya. Ada rasa yang menyelinap di hati, entah itu apa... tapi... saya sangat terharu...

Duhai Rabbi...
Anak sekecil ini, sudah dapat memahami arti berbagi dan bagaimana cara membahagiakan orang tuanya meski hanya jeruk yang tadi saya berikan.
Anak sekecil ini tidak mendahulukan kepentingannya sendiri, namun orang lain terlebih dulu.
Anak sekecil ini begitu berbahagia bisa memberikan apa yang ia punyak meskipun di awal tadi saya sempat melihatnya untuk segera memakan jeruk tersebut.

Subhanallah...
Saya merasa bahagia dan sedih.

Bahagia atas dirinya yang telah dididik sedemikian rupa untuk dapat berbuat seperti itu, yang mungkin ia dapatkan dari kedua orang tuanya di rumah.

Sedih atas diri saya yang mungkin selama ini belum mampu menggabungkan beberapa hal seperti anak itu dalam satu kali perbuatan.
Sedih karena yang bisa saya berikan hanya itu, padahal saya ingin sekali mendapatkan banyak hikmah dan pahala dari sikapnya yang tulus itu.

Subhanallah...
Indahnya tatanan keluarga dan masyarakat, jika hal tersebut pun juga berlaku bagi semuanya. Generasi yang terlahir dalam cinta kasih orang tua, walaupun ayah ibunya bukan masyarakat yang religi dan menyejukkan bagi siapapun di sekitarnya.

Ya Allah, permudahkanlah jalannya menuju-Mu...
Semoga kelak ia menjadi insan yang mampu memberikan keindahan bagi sekitarnya dan tidak berubah dari sikap tulusnya itu...
Amiin Allahuma amiin...

-------------

Alhamdulillah...
tertidur juga dalam muhasabah di jam 3 pagi...

Ahad, 9 Shafar 1430 H / 24 Januari 2010 M
01.17 WITA
By. Syafalikah Azizah


readmore »»  

Monday, 18 January 2010

mencari Andi...

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Siapa Andi? Mengapa saya harus mencarinya?
Mungkin ini yang terbaca saat saya memberi judul pada tulisan kali ini.

Ya, hanya dia yang saya hapal namanya sampai sekarang. Tokoh anak kecil yang saya buatkan pula kisahnya dalam bentuk cerpen di buku Antologi Cerpen 1210 hari berkarya, sebuah persembahan...
Memang tidak nyata kisah tersebut, tapi di sisi lain banyak perihal nyata yang saya tuliskan di sana.

Andi saya kenal pertama saat bulan Ramadhan, kira-kira tiga atau empat tahun yang lalu. Bersama teman-temannya kami selalu mengobrol apa saja, bahkan kadang pergi piknik bersama, meski hanya mengunjungi Masjid Istiqomah. Saya musti bolak-balik mengambil dan menjemput mereka, karena jumlahnya banyak. Rumah mereka berada di daerah Klandasan. Pekerjaan mereka adalah tukang parkir.
Entah kenapa, saya hanya mengingat nama Andi. Dia paling kecil, paling dekil dan paling ribut. Mungkin karena ia seperti itu, maka saya lebih dekat dengannya.

Teringat saat setiap saya parkir motor di depan Foto Surya (sebrang Masjid At-Taqwa, samping Bank Muamalat), mereka begitu hapal dengan motor saya. Saat saya pergi dan kembali, mereka sudah mengerubunginya seperti semut yang mendapatkan gula. Atau ketika saya ijin pulang ke mereka, salah satu temannya meminta uang parkir, maka yang lain mengatakan tidak perlu bayar, tapi saya tetap bayar ke temannya itu, karena sepertinya ia baru saja bergabung.

Atau juga ketika kami makan bersama di emperan toko di suatu sore, berdo'a bersama, saling mendengarkan cerita saat saya dan teman mendongeng untuk mereka.

Dan waktu begitu cepat berlalu...

Saya sudah tidak bekerja lagi di area Masjid Istiqomah, lalu motor saya juga sudah berganti, kerja saya jauh dari mereka apalagi dari pagi sampai sore.
Keinginan untuk bersama mereka lagi, sungguh sangat saya rindukan. Akhirnya saya bertekad mencari mereka, terutama Andi. Bagaimana rupanya? Apa sekarang kegiatannya?

Saya sengaja mengajak teman untuk mencarinya di daerah pasar tradisional Klandasan itu, hari Senin setelah saya pulang kerja, ijin ke orang tua ada keperluan dan pulang malam.
Motor kami parkir di tempat yang nyaman dan segera

Mula-mula kami mencari dari Masjid At-Taqwa, lalu menyusuri jalanan besar dari Foto Surya menuju Rumah Padang. Masuk dan keluar pasar.  Menjelang maghrib, sholat, dan melanjutkan pencarian. Lalu bertemu segerombolan anak, dan bertanya pada mereka, "Dik, tahu nggak yang namanya Andi? Dulu dia tukang parkir dan punya temen namanya Anti, kalo gak salah?" tanya saya setengah ragu mengingat nama-nama yang lain, yang berkaitan dengan pencarian ini.
"Oh, kenal, Bu. Kalo Anti itu kakaknya, saya sepupunya. Dulu Anti kerja, tapi sekarang sudah berhenti," jawab salah satu dari mereka.
"Oh ya. Wah, bisa bantuin nyari Andi, nggak? Saya cuman pengen ketemu aja..." lalu saya ceritakan mengapa saya mencari Andi ke mereka.
"Biasanya dia ada main PS di Gang At-Taqwa, Bu. Atau di belakang dekat rumah. Tapi sekarang dia jadi peminta-minta di dalam pasar sana, jam setengah delapan malam dia selalu ada di sana," mereka menjelaskan keberadaan Andi.

"Gimana, ukht? Kita cari aja dia di tempat main PS, atau kalau nggak kita masuk lagi ke pasar," tanya saudara saya.
Saya sendiri sedang bermain-main dengan pikiran sendiri, tak terlalu memperhatikan jalan atau hal-hal lain di sekitar saya. Andi menjadi peminta-minta? Main PS?
Sejujurnya saya bingung, apa yang akan saya lakukan selanjutnya.
Teman saya pamit sebentar dan saya menunggu, sambil menulis sesuatu di dalam buku saya, di emperan Bank Muamalat. Tiba-tiba saya sudah dikejutkan dengan teriakan dari sepupu Andi yang tadi memberikan info, "Bu, itu Anti, kakaknya Andi...!" dia menunjuk ke belakang saya.
MasyaAllah, hampir saja saya terlonjak karena kaget. Anti sudah berdiri di belakang saya tepat. Wajahnya sudah berubah menjadi penuh riasan, telinganya bertindik dua di sebelah kiri, dengan penampilan baju khas anak muda. Inikah wajah kecil yang dulu pernah juga saya kenal?

"Ada apa, Kak?" sapanya.
Ah, saya segera tersadar dari lintasan pikiran tentang anak yang sudah meremaja ini.
"Anti, Andi kemana?" tanya saya.
"Tidak tahu..."
"Lhoh, kok tidak tahu? Anti 'kan kakaknya?" tanya saya semakin kaget.
"Dia nggak pernah pulang, Kak..."
"Tak pernah pulang? Memang dia kemana? Tidak pernah dicari bareng orang tua?"
"Dicari juga, tapi dianya nggak mau pulang..."
"Gitu, yah..." tiba-tiba saya sudah jadi lemes.

"Ehm, Anti bisa bantu cari Andi?" tanya saya kemudian.
"Enggak bisa, Kak. Soalnya saya lagi ada masak di rumah."
"Oh iya, deh. Makasih, yah Anti. Silakan kembali aja. Sekali lagi makasih, yah..."
Anti pun berlari menuju daerah perkampungan di belakang ruko-ruko itu. Tiba-tiba sudah menghilang.

Saya... saya masih berpikir. Masih belum memahami untuk semuanya. Sejujurnya tidak siap dengan semuanya ini, padahal saya pikir, saya akan bertemu mereka yang dulu saya kenal, saling tersenyum dan bercanda. Ternyata bilangan tahun benar-benar telah merubah semuanya. Anti sekarang kelas 1 SMP, sesaat tadi ia bercerita sekilas.
Sambil menunggu teman kembali, saya pun menuliskan kembali pada buku di tas. Pertemuan dengan Anti itu ataupun dengan teman-temannya.

Nah, itu dia. Teman saya sudah kembali. Kami pun berjalan menyusuri jalanan malam yang sudah ramai hiruk-pikuk kendaraan di sana-sini. Menenteng tas ransel, saya dan teman akhirnya memutuskan masuk ke perkampungan mereka. Walaupun sebenarnya saya rada cemas, karena mengingat kami bukan siapa-siapa di daerah itu. Bagaimana jika penduduk di sana saling bertanya-tanya, kenapa kami mencari Andi? Wah, pokoknya saya benar-benar tidak berani (padahal biasanya saya berani untuk menghadapi hal-hal baru, tetapi saya rasa ini lain - belum lagi berita di televisi yang menceritakan tentang dunia anak jalanan dengan berbagai kasus, seraaaammm). Namun saya sudah bertekad ingin bertemu saat itu juga, karena di waktu lain saya belum tentu punya banyak waktu lagi saat luang.

Kami bertanya dengan beberapa orang di sana-sini, di mana biasanya anak-anak bermain PS. Lalu kami melintasi gang-gang sempit yang penuh lumpur karena hujan telah mengguyur sejak sore hari dan masih rintik-rintik ketika itu. Akhirnya kami sampai ke dalam sebuah rumah yang menghadap ke pantai, di mana anak-anak bermain PS di sana. Lalu kami bertanya, dan dari dalam muncul sepupu Andi yang di sore tadi sambil berkata kepada teman-temannya bahwa ia tahu maksud kami datang ke sana.

Lalu muncullah anak kecil, yang sepertinya saya hampir kenal dengan wajahnya. Ternyata ia adiknya Andi.
"Ya Allah, emang ada berapa sih kakak beradik ini?" tanya hati saya.
Mana semuanya usianya tidak jauh beda. Tapi lupakan saja. Kami menuju keluar gang sempit itu bersama-sama mereka sekarang, dan mereka bercerita kalau tadi sempat menemukan Andi, tetapi ketika dipanggil ia tidak mau dan malah lari.
Saya semakin terkaget-kaget.
Sesampai di depan gang, teman saya memberikan mereka uang saku sebagai imbalan informasi dan bantuan mereka yang begitu baik. Saya sendiri tiba-tiba teringat buah apel yang ada di tas, dan saya berikan ke mereka.

Apa dia sudah sekolah lagi, ya? Karena dulu ia ikut sekolah terbuka saja, dan sempat ikut pembinaan salah satu yayasan di kota ini (Balikpapan). Tiba-tiba rasa bersalah begitu menyeruak di hati saya. Terlalu lama saya tidak bersinggungan dengan mereka, membiarkan mereka terlepas dari genggaman karena aktivitas-aktivitas saya. Jika saat itu saya bertemu, kami berencana makan bersamanya atau dengan teman-temannya. Sudah tiga kali kami menyusuri isi dalam pasar, tapi tidak bertemu juga. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti mencari saja, karena waktu sudah menunjukkan setengah sembilan malam.

Saya tak bisa berpikir jernih, sehingga pertanyaan atau kata-kata teman saya terabaikan begitu saja (deuh, punten jiddan yah sodaraku...). Setelah selesai makan di salah satu sisi luar pasar di sebuah warung yang menghadap pantai, kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Sampai sekarang pun, saya masih berkeinginan. Semoga saya masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan ini dan dapat menjangkau mereka lagi untuk diajak belajar atau kegiatan apapun seperti dulu.

Pernah juga saya bergabung dengan teman-teman untuk mengajar anak-anak jalanan di Kampung Pemulung Stal Kuda, tapi hanya bertahan beberapa bulan. Apa yang saya rasakan berbeda, saya tidak terlalu akrab dengan anak-anak di sana, karena mereka tidak mau memperhatikan pelajaran dan sulit untuk diberitahu tentang sesuatu. Mungkin karena mereka berbeda dari segi pendidikan dan kemapanan, mereka tidak bisa saya bilang anak-anak jalanan. Orang tua mereka jauh lebih mapan, dan lingkungan sekitarnya sudah penuh dengan nuansa modernisasi. Lantas, di wilayah ini berdiri juga sebuah yayasan dari milik perusahaan minyak yang membantu pendanaan untuk kegiatan mereka.

Ya, dengan anak-anak jalanan lepas, seperti yang saya tangani di Klandasan dulu, meski mereka berada di dunia yang keras, justru mereka lebih mudah diarahkan.

Saya sungguh tahu, kemampuan saya sangat terbatas. Namun, saya ingin sekali menjadi banyak manfaat untuk sekitar saya. Mungkin ini kecil bagi siapapun, tetapi bagi saya besar nilainya, menyelamatkan generasi untuk dapat berpegang teguh pada agamanya. Sungguh miris merasakan mereka menjadi tanpa arah dan bertindak tak baik pada sekitarnya.

Ah, cita-cita kecil yang masih jauh untuk ditempuh, semoga banyak lagi yang bisa saya lakukan untuk sekitar saya di sisi lainnya. InsyaAllh...

----------------

Ya Allah, panjangkan usiaku dan perkenankan aku untuk bermanfaat bagi sekitar di sepanjang kehidupanku...


readmore »»  

Sunday, 17 January 2010

dalam do'a...

Bismillahirahmaanirrahiim...

Duhai Rabbi...
Di hari ini aku belajar banyak tentang kehidupan yang belum pernah kurasakan. Aku tahu hanyalah insan dhoif yang harus terus untuk memperbaiki diri dalam kehidupanku. Aku hanyalah insan yang mencoba untuk terus berbenah.

Yaa Allah...
Ijinkanlah waktu dan usiaku sentiasa bermanfaat di setiap nafas kehidupanku. Jika ini jalannya yang Engkau permudahkan, maka ridloilah langkah ini.
Jika ini adalah jalan berliku untuk yang kesekian kalinya, ijinkanlah aku terus bersabar dan mudahkan langkahku untuk menggapai cita di sisi-Mu.

Duhai Allah...
Aku sangat tahu permintaanku sangat banyak, tidak terbatas. Sehingga dari semua hal yang kupinta, Engkau berikan aku ujian-ujian agar aku terus Engkau tempa untuk bersyukur dan bersabar. Terkadang di tengah ujian-ujian itu, aku memohon untuk dihentikan, tetapi saudaraku mendo'akan selalau, agar aku kuat dan terus bertahan.

Duhai Rabbi...
Ijinkanlah kulalui jalan kali ini lebih mudah...
Kuatkan dan tegarkan aku untuk melangkah...
Jadikanlah akhir dari semua ini begitu indah..
Jikalaupun kebahagiaan tak kutemukan di dunia, ijinkanlah aku meminta agar Engkau menabungkannya di akhirat
Dunia hanyalah fana, biarkan ia bermain-main di mata dan kugenggam dalam ikatan fana. Sedangkan dengan akhirat-Mu, ijinkan aku bercita-cita dan menginginkannya dalam hatiku.

Duhai Sang Pencipta Semesta...
Maafkanlah kedhoifanku
Ampunkanlah kesalahan-kesalahan saudaraku, insan-insan di sekitarku dan diriku
Ijinkanlah untuk terus memperbaiki diri dalam kehidupan, jangan Engkau biarkan mereka dan aku dalam kesesatan.

Duhai Allah...
Maafkan aku hamba-Mu yang sangat dhoif
Ijinkan aku berserah diri
Bersabar atas jalan ini saat tak mudah
Bersyukur atas segala nikmat kehidupanku dan dipermudahkannya jalan ini menuju-Mu

Yaa Allah, Yaa Rahmaan...
Munajat dan do'aku
Semoga Engkau perkenankan...
Amiin... amiin... amiin, Yaa Rabbal'alamiin...

Ahad, 2 Shafar 1430 H / 17 Januari 2010 M, 21:56


readmore »»  

Wednesday, 13 January 2010

barakah...

Bismillah, setelah lama tidak menulis... ini memulai lagi, dengan mengutip, tapi tak apalah untuk sementara dulu... ^^

Subhanallah, indah sekali, bahasa barakah. Logatnya logat cinta…

Sesudah menikah, semoga barakah hidup kita semakin bertambah. Barakah mengasah rasa, menempa jiwa, memberikan sebuah dunia yang kadang tak tertembus penglihatan manusia biasa. Suatu hari mungkin kita menyaksikan seorang lelaki, ikut antri di warung pecel lele di daerah Monjali. Mendung bergantung sore itu, dan warna hitam yang menyeruak di barat mulai bergerak mendekat. Dia, berkaos putih yang leherannya mulai geripis, di kepalanya ada pecis putih kecil, dan celananya beberapa senti di atas mata kaki. Sandal jepit swallow yang talinya hampir putus nyangkut di antara jempol dan jari kakinya. Seperti yang lain ia juga memesan, “Pecel Lele, Mas!”

             “Berapa?” tanya Mas penjual yang asyik mengulek sambal terasi sambil sesekali meraih sothil besar untuk membalik gorengan lele di wajan raksasa. Gemuruh bunyi kompor mengharuskan orang bicara sedikit lebih keras.

             “Satu. Dibungkus..” perlahan tangannya merogoh saku celana, lalu duduk sembari menghitung uangnya. Malu-malu, tangannya dijorokkan sedikit ke bawah meja. Uang pecahan ratusan yang sudah disatukan dengan selotip bening per sepuluh keeping, pas jumlahnya sesuai harga.

             “Nggak makan sini aja, Mas? Takut keburu hujan, ya?”

             “Hi.. hi, buat istri..”

             “Oo…”

             Selesai pesanannya dibungkus, bersamaan dengan bunyi keritik yang mulai menggambar titik-titik basah di tenda terpal milik Mas Pecel Lele. Agak berlari ia keluar, ternyata melebatnya sang hujan jauh lebih cepat dari tapak-tapak kecilnya. Khawatir pecel lele untuk istri tercinta yang hanya dibungkus kertas akan berkuah, ia selipkan masuk ke perutnya. Bungkusan itu ia rengkuh erat dengan tangan kanan, tersembunyi di balik kaos putih yang mulai transparan disapu air. Tangan kirinya ke atas, mencoba melindungi kepalanya dari terpaan ganas hujan yang tercurah memukul-mukul. Saat itu ia sadar, ia ambil pecisnya. Ia pakai juga untuk melapisi bungkusan pecel lele. Huff, lumayan aman sekarang. Tetapi 3 kilometer bukanlah jarak yang dekat untuk berjalan di tengah hujan, bukan?

             Apa perasaan Anda melihat lelaki ini? Kasihan. Iba. Miris. Sedih.

            Itu kan, Anda! Coba tanyakan pada lelaki itu, kalau Anda bertemu. Oh, sungguh berbeda. Betapa berbunga hatinya. Dadanya dipenuhi heroisme sebagai suami baru yang penuh perjuangan untuk membelikan penyambung hayat istri tercinta. Jiwanya dipenuhi getaran kebanggaan, keharuan, dan kegembiraan. Kebahagiaan seolah tak terbatas, menyelam begitu dalam di kebeningan matanya. Ia membayangkan senyum yang menantinya, bagai bayangan surga yang terus terhidupkan di rumah petak kontrakannya. Di tengah cipratan air dari mobil dan bus kota yang bersicepat, juga sandalnya yang putus lalu hilang ditelan lumpur becek, ia akan tersenyum. Senyum termanis yang disaksikan jagad. Seingatnya, ia belum pernah tersenyum semanis itu saat masih membujang.

            Subhanallah…

 

(kisah nyata dari Ustadz Mohammad Fauzil’Adhim, by Salim Akhum Fillah pada buku Saksikan bahwa aku seorang Muslim).


readmore »»