Showing posts with label hanyatulisankecil. Show all posts
Showing posts with label hanyatulisankecil. Show all posts

Tuesday, 26 January 2010

Rabbani...

Bismillah...

‘Umar tentu tak hanya mengutuk ketidakadilan, agar dipikulnya sendiri gandum untuk seorang wanita yang memasak batu di atas tungku. Ia dengarkan seksama kejujuran seorang gadis penjual susu. Ia uji baik-baik seorang gembala. Ia berlari-lari di tengah hujan mengejar unta zakat yang lepas. Mengapa kebijakan-kebijakan ‘Umar bisa begitu insani? Tentu karena ia lahir justru dari sistem dan pribadi-pribadi yang Rabbani. Rabbani-Insani, pasangan yang agung.

Maka ‘Umar memecat Khalid, ketika terasa ada sesuatu mulai tak beres di dada para prajurit; kultus. Tetapi dia juga menangis ketika Khalid meninggal, “Adakah wanita yang sanggup melahirkan lagi lelaki seperti Abu Sulaiman?” Dan ‘Umar tak mengijinkan para panglima mengelola tanah sekaligus membangun kota-kota militer di Bashrah, Kufah, dan Fustat, agar semangat ekspansif mereka tak tumpul. Tapi ia juga berharap perbukitan Khurasan menghalangi kaum muslimin dari musuh, dan menghalangi musuh dari kaum muslimin. Karena baginya, nyawa seorang mukmin begitu berharga untuk membangun dunia yang beradab. Ada penjagaan nilai Illahi, nilai perjuangan, sekaligus nilai kemanusiaan dalam tiap kebijakan yang dibuatnya. Dan memang, ‘Umar tidak memerintah atas nama Tuhan. Ia, dan bahkan pendahulunya berpidato di saat pengangkatan, “Aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Jika aku benar, maka dukung dan bantulah aku mengemban amanah ini. Jika aku salah, maka jangan ragu untuk meluruskanku!”

Dalam Jami’ul Bayaan fii Ta’wilil Quraan, Al-Imam Ibnu Jarir Ath Thabari menyebutkan lima hal yang harus dimiliki oleh seorang Rabbani.

-----------------------

Namun saya akan menuliskan pada bagian keempat saja di sini. Tafadhol mencari angka satu, dua, tiga dan lima-nya, atau jika teman-teman fillah berkenan, saya akan menuliskannya di sini saat terluang kembali waktu yang terjaring (lhah, kaya diplomat aja sok sibuk, hehehe...).

-----------------------

Al Bashirah bit Tadbir

Seorang yang Rabbani juga memiliki kedalaman pandangan dalam hal manajemen. Dia tahu bagaimana menempatkan suatu sumberdaya pada posisi yang tepat. Didasari hal inilah, mungkin, Rasulullah tak pernah mengangkat ‘Umar ibn Al Khaththab menjadi komando satuan pasukan besar. Bukan dia tak mampu. Tapi model seperti ‘Umar akan mementingkan mencari kematian syahadah daripada kemenangan yang dipimpinnya. Khalid ibn Al Walid berbeda. Saat dipecat dari kedudukan sebagai panglima ia berujar, “Kini aku bebas mencari kematian. Kemarin ketika menjadi panglima, tentu kupikirkan pasukanku. Kini aku berpikir tentang diriku sendiri, dan ia merindukan surga.”
Kalau bukan karena dia panglima, Khalid mungkin tak perlu mematahkan sampai 13 bilah pedang dalam perang Mu’tah.

Demikian juga, pandangan tajam menajerial Nabi membuat beliau langsung menunjuk ‘Amr ibn Al ‘Ash beberapa saat sesudah dia masuk Islam untuk menjadi komandan satuan yang di dalamnya bergabung para sahabat senior termasuk Abu Bakr dan ‘Umar. Malamnya, saat mereka berkemah, tiba-tiba ‘Amr memerintahkan semua memadamkan api.

‘Umar tersinggung. Terlihat olehnya pasukan itu kedinginan, dan beberapa yang lain sedang memasak makanan.
“Tidak, jangan matikan apinya!”, seru ‘Umar.
Abu Bakr yang ada di sampingnya langsung menegur, “Wahai ‘Umar, dia pemimpin yang ditunjuk Rasulullah untuk kita. Taatlah pada Allah, Rasul-Nya, dan pemimpinmu!”

‘Umar masih menggerutu. Tetapi beberapa saat kemudian dia menyadari ‘Amr benar. Bunyi ringkik dan tapak kaki kuda patroli musuh, ratusan agaknya, terdengar begitu mengerikan. Tetapi kafilah patroli itu lewat saja. Maka Abu Bakr pun tersenyum padanya.

Hari berikutnya, ‘Amr memerintahkan pasukannya berhenti di luar perkampungan kabilah yang akan diserang.
“Aku akan masuk. Jika aku tak kembali hingga mentari tergelincir, kalian serbulah ke dalam!”
‘Umar protes lagi.
“Jika kau ingin syahid, kami semua juga! Tetaplah kita bersama!”

Dengan lirikan, kembali Abu Bakr mengingatkan ‘Umar. Dan ‘Umar pun patuh. Beberapa waktu kemudian, ‘Amr telah kembali bersama pemimpin kabilah yang telah masuk Islam bersama pengikutnya, atas diplomasi ‘Amr. Kabilah itu tunduk, tanpa setetes darahpun tertumpah.

Seandainya jadi Abu Bakr mungkin saat itu kita akan berkata pada ‘Umar, “Nah. Gua bilang juga apa?”

----------------------

Ah, alangkah indahnya tatanan para sahabat...
Saling menyempurnakan dalam sikap...
Kala satu sama lain tak punya hal yang sama, maka dukungan dan ingatan selalu tersampir untuk dibagikan kepada yang lainnya. Mungkin biasa... apalagi saat ini, banyak ingatan tanda cinta dari yang lain, dianggap sebagai sesuatu yang mematahkan semangat atau mengolok. Jika cinta ini bukan karena Allah, tak akan mungkin... ingatan begitu mendalam untuk diberikan agar siapapun tak berada dalam keputus asaan atau berada dalam jurang kepahitan dan kemungkaran.

Maka... kesempurnaan adalah memberi satu sama lain yang berbeda.. bukan untuk dicari dan diminta...
Maka keindahan ukhuwah itu, karena satu dengan yang lainnya menyatu dalam kebenaran... mentarbiyah diri dan yang lain bersama-sama...
Ah, rindunya saya pada suasana itu... rindu pada perjuangan yang belum berakhir ini... untuk lebih baik lagi... segera, dan cepat terlaksana... namun bukan tergesa... melainkan berstrategi... agar celah harapan selalu menancap di ingatan dan mata. Lalu menelisik tajam ke dalam hati...

Duhai Rabbi...
Ijinkanlah perjuangan ini... ijinkan generasi Rabbani, mengisi dan mencahayai kegelapan yang bertebaran di sekitar... maka ini adalah karena Engkau... tak akan berpaling sedikitpun...
Semoga hati-hati kami berada dalam ketulusan yang sentiasa berada di jalan Engkau... bukan dalam kemungkaran yang mendapatkan neraka Engkau...
Amiin Allahuma amiin...

-----------------------

Kita melangkah seiringan... satu perjuangan...
(Brother)


*Catatan kesekian dari buku yang menginspirasiku dari milik Salim Akhum Fillah.
By. Syafalikah Azizah

readmore »»  

bentuk berbagi...

Bukan karena hari ini masih di Samarinda untuk mengikuti MUSWIL FLP Kaltim, hingga semalam ini saya belum tertidur, melainkan ada yang belum sempat saya tuliskan di sebuah catatan hari dalam pelajaran kehidupan. Saya takut terlupa menulisnya, hingga akhirnya tidak dapat berbagi cerita dengan yang lain. Mungkin kisah ini tidak banyak berhikmah bagi siapapun, tapi sungguh cukup indah untuk saya kenang.

Sore itu sepulang kerja sebelum keberangkatan ke Samarinda untuk acara MUSWIL FLP Kaltim, saat sedang berada di depan rumah sambil memakan jeruk beberapa potong, datanglah seorang anak laki-laki kecil tetangga dekat berbaju koko warna coklat muda.
"Mbak, mau beli..."
"Oh iya, mo beli apa, dik?"
"Beli asam dan garam..."
"Siapa suruh...?"
"Disuruh ibu..." jawabnya sambil memberikan uang pas untuk barang yang dibeli.
"Ibu siapa...?" tanya saya masih mencandainya.
"Ya ibu..." jawabnya sambil tersenyum seperti biasa.
"Tunggu, ya..." jawab saya sambil masuk rumah mengambil kunci warung.
"Mau jeruk?" tanya saya setelah mengambil kunci dan ingat masih memegang jeruk yang masih tersisa banyak di tangan.
"Iya, makasih..."

Saya segera membuka warung dan mengambilkan barang yang dimaksud, tapi mata saya masih tetap berputar ke anak laki-laki tadi. Sambil memasukkan barang ke dalam tas plastik, saya mendengar dia bicara, "Kutaruh di saku dulu, ah. Untuk bapak dan ibu, pasti mereka senang..."

Subhanallah...
Saya sangat tahu, sebelum memasukkan jeruk itu ke dalam saku bajunya, ia ingin sekali memakannya. Ada rasa yang menyelinap di hati, entah itu apa... tapi... saya sangat terharu...

Duhai Rabbi...
Anak sekecil ini, sudah dapat memahami arti berbagi dan bagaimana cara membahagiakan orang tuanya meski hanya jeruk yang tadi saya berikan.
Anak sekecil ini tidak mendahulukan kepentingannya sendiri, namun orang lain terlebih dulu.
Anak sekecil ini begitu berbahagia bisa memberikan apa yang ia punyak meskipun di awal tadi saya sempat melihatnya untuk segera memakan jeruk tersebut.

Subhanallah...
Saya merasa bahagia dan sedih.

Bahagia atas dirinya yang telah dididik sedemikian rupa untuk dapat berbuat seperti itu, yang mungkin ia dapatkan dari kedua orang tuanya di rumah.

Sedih atas diri saya yang mungkin selama ini belum mampu menggabungkan beberapa hal seperti anak itu dalam satu kali perbuatan.
Sedih karena yang bisa saya berikan hanya itu, padahal saya ingin sekali mendapatkan banyak hikmah dan pahala dari sikapnya yang tulus itu.

Subhanallah...
Indahnya tatanan keluarga dan masyarakat, jika hal tersebut pun juga berlaku bagi semuanya. Generasi yang terlahir dalam cinta kasih orang tua, walaupun ayah ibunya bukan masyarakat yang religi dan menyejukkan bagi siapapun di sekitarnya.

Ya Allah, permudahkanlah jalannya menuju-Mu...
Semoga kelak ia menjadi insan yang mampu memberikan keindahan bagi sekitarnya dan tidak berubah dari sikap tulusnya itu...
Amiin Allahuma amiin...

-------------

Alhamdulillah...
tertidur juga dalam muhasabah di jam 3 pagi...

Ahad, 9 Shafar 1430 H / 24 Januari 2010 M
01.17 WITA
By. Syafalikah Azizah


readmore »»  

Monday, 18 January 2010

mencari Andi...

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Siapa Andi? Mengapa saya harus mencarinya?
Mungkin ini yang terbaca saat saya memberi judul pada tulisan kali ini.

Ya, hanya dia yang saya hapal namanya sampai sekarang. Tokoh anak kecil yang saya buatkan pula kisahnya dalam bentuk cerpen di buku Antologi Cerpen 1210 hari berkarya, sebuah persembahan...
Memang tidak nyata kisah tersebut, tapi di sisi lain banyak perihal nyata yang saya tuliskan di sana.

Andi saya kenal pertama saat bulan Ramadhan, kira-kira tiga atau empat tahun yang lalu. Bersama teman-temannya kami selalu mengobrol apa saja, bahkan kadang pergi piknik bersama, meski hanya mengunjungi Masjid Istiqomah. Saya musti bolak-balik mengambil dan menjemput mereka, karena jumlahnya banyak. Rumah mereka berada di daerah Klandasan. Pekerjaan mereka adalah tukang parkir.
Entah kenapa, saya hanya mengingat nama Andi. Dia paling kecil, paling dekil dan paling ribut. Mungkin karena ia seperti itu, maka saya lebih dekat dengannya.

Teringat saat setiap saya parkir motor di depan Foto Surya (sebrang Masjid At-Taqwa, samping Bank Muamalat), mereka begitu hapal dengan motor saya. Saat saya pergi dan kembali, mereka sudah mengerubunginya seperti semut yang mendapatkan gula. Atau ketika saya ijin pulang ke mereka, salah satu temannya meminta uang parkir, maka yang lain mengatakan tidak perlu bayar, tapi saya tetap bayar ke temannya itu, karena sepertinya ia baru saja bergabung.

Atau juga ketika kami makan bersama di emperan toko di suatu sore, berdo'a bersama, saling mendengarkan cerita saat saya dan teman mendongeng untuk mereka.

Dan waktu begitu cepat berlalu...

Saya sudah tidak bekerja lagi di area Masjid Istiqomah, lalu motor saya juga sudah berganti, kerja saya jauh dari mereka apalagi dari pagi sampai sore.
Keinginan untuk bersama mereka lagi, sungguh sangat saya rindukan. Akhirnya saya bertekad mencari mereka, terutama Andi. Bagaimana rupanya? Apa sekarang kegiatannya?

Saya sengaja mengajak teman untuk mencarinya di daerah pasar tradisional Klandasan itu, hari Senin setelah saya pulang kerja, ijin ke orang tua ada keperluan dan pulang malam.
Motor kami parkir di tempat yang nyaman dan segera

Mula-mula kami mencari dari Masjid At-Taqwa, lalu menyusuri jalanan besar dari Foto Surya menuju Rumah Padang. Masuk dan keluar pasar.  Menjelang maghrib, sholat, dan melanjutkan pencarian. Lalu bertemu segerombolan anak, dan bertanya pada mereka, "Dik, tahu nggak yang namanya Andi? Dulu dia tukang parkir dan punya temen namanya Anti, kalo gak salah?" tanya saya setengah ragu mengingat nama-nama yang lain, yang berkaitan dengan pencarian ini.
"Oh, kenal, Bu. Kalo Anti itu kakaknya, saya sepupunya. Dulu Anti kerja, tapi sekarang sudah berhenti," jawab salah satu dari mereka.
"Oh ya. Wah, bisa bantuin nyari Andi, nggak? Saya cuman pengen ketemu aja..." lalu saya ceritakan mengapa saya mencari Andi ke mereka.
"Biasanya dia ada main PS di Gang At-Taqwa, Bu. Atau di belakang dekat rumah. Tapi sekarang dia jadi peminta-minta di dalam pasar sana, jam setengah delapan malam dia selalu ada di sana," mereka menjelaskan keberadaan Andi.

"Gimana, ukht? Kita cari aja dia di tempat main PS, atau kalau nggak kita masuk lagi ke pasar," tanya saudara saya.
Saya sendiri sedang bermain-main dengan pikiran sendiri, tak terlalu memperhatikan jalan atau hal-hal lain di sekitar saya. Andi menjadi peminta-minta? Main PS?
Sejujurnya saya bingung, apa yang akan saya lakukan selanjutnya.
Teman saya pamit sebentar dan saya menunggu, sambil menulis sesuatu di dalam buku saya, di emperan Bank Muamalat. Tiba-tiba saya sudah dikejutkan dengan teriakan dari sepupu Andi yang tadi memberikan info, "Bu, itu Anti, kakaknya Andi...!" dia menunjuk ke belakang saya.
MasyaAllah, hampir saja saya terlonjak karena kaget. Anti sudah berdiri di belakang saya tepat. Wajahnya sudah berubah menjadi penuh riasan, telinganya bertindik dua di sebelah kiri, dengan penampilan baju khas anak muda. Inikah wajah kecil yang dulu pernah juga saya kenal?

"Ada apa, Kak?" sapanya.
Ah, saya segera tersadar dari lintasan pikiran tentang anak yang sudah meremaja ini.
"Anti, Andi kemana?" tanya saya.
"Tidak tahu..."
"Lhoh, kok tidak tahu? Anti 'kan kakaknya?" tanya saya semakin kaget.
"Dia nggak pernah pulang, Kak..."
"Tak pernah pulang? Memang dia kemana? Tidak pernah dicari bareng orang tua?"
"Dicari juga, tapi dianya nggak mau pulang..."
"Gitu, yah..." tiba-tiba saya sudah jadi lemes.

"Ehm, Anti bisa bantu cari Andi?" tanya saya kemudian.
"Enggak bisa, Kak. Soalnya saya lagi ada masak di rumah."
"Oh iya, deh. Makasih, yah Anti. Silakan kembali aja. Sekali lagi makasih, yah..."
Anti pun berlari menuju daerah perkampungan di belakang ruko-ruko itu. Tiba-tiba sudah menghilang.

Saya... saya masih berpikir. Masih belum memahami untuk semuanya. Sejujurnya tidak siap dengan semuanya ini, padahal saya pikir, saya akan bertemu mereka yang dulu saya kenal, saling tersenyum dan bercanda. Ternyata bilangan tahun benar-benar telah merubah semuanya. Anti sekarang kelas 1 SMP, sesaat tadi ia bercerita sekilas.
Sambil menunggu teman kembali, saya pun menuliskan kembali pada buku di tas. Pertemuan dengan Anti itu ataupun dengan teman-temannya.

Nah, itu dia. Teman saya sudah kembali. Kami pun berjalan menyusuri jalanan malam yang sudah ramai hiruk-pikuk kendaraan di sana-sini. Menenteng tas ransel, saya dan teman akhirnya memutuskan masuk ke perkampungan mereka. Walaupun sebenarnya saya rada cemas, karena mengingat kami bukan siapa-siapa di daerah itu. Bagaimana jika penduduk di sana saling bertanya-tanya, kenapa kami mencari Andi? Wah, pokoknya saya benar-benar tidak berani (padahal biasanya saya berani untuk menghadapi hal-hal baru, tetapi saya rasa ini lain - belum lagi berita di televisi yang menceritakan tentang dunia anak jalanan dengan berbagai kasus, seraaaammm). Namun saya sudah bertekad ingin bertemu saat itu juga, karena di waktu lain saya belum tentu punya banyak waktu lagi saat luang.

Kami bertanya dengan beberapa orang di sana-sini, di mana biasanya anak-anak bermain PS. Lalu kami melintasi gang-gang sempit yang penuh lumpur karena hujan telah mengguyur sejak sore hari dan masih rintik-rintik ketika itu. Akhirnya kami sampai ke dalam sebuah rumah yang menghadap ke pantai, di mana anak-anak bermain PS di sana. Lalu kami bertanya, dan dari dalam muncul sepupu Andi yang di sore tadi sambil berkata kepada teman-temannya bahwa ia tahu maksud kami datang ke sana.

Lalu muncullah anak kecil, yang sepertinya saya hampir kenal dengan wajahnya. Ternyata ia adiknya Andi.
"Ya Allah, emang ada berapa sih kakak beradik ini?" tanya hati saya.
Mana semuanya usianya tidak jauh beda. Tapi lupakan saja. Kami menuju keluar gang sempit itu bersama-sama mereka sekarang, dan mereka bercerita kalau tadi sempat menemukan Andi, tetapi ketika dipanggil ia tidak mau dan malah lari.
Saya semakin terkaget-kaget.
Sesampai di depan gang, teman saya memberikan mereka uang saku sebagai imbalan informasi dan bantuan mereka yang begitu baik. Saya sendiri tiba-tiba teringat buah apel yang ada di tas, dan saya berikan ke mereka.

Apa dia sudah sekolah lagi, ya? Karena dulu ia ikut sekolah terbuka saja, dan sempat ikut pembinaan salah satu yayasan di kota ini (Balikpapan). Tiba-tiba rasa bersalah begitu menyeruak di hati saya. Terlalu lama saya tidak bersinggungan dengan mereka, membiarkan mereka terlepas dari genggaman karena aktivitas-aktivitas saya. Jika saat itu saya bertemu, kami berencana makan bersamanya atau dengan teman-temannya. Sudah tiga kali kami menyusuri isi dalam pasar, tapi tidak bertemu juga. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti mencari saja, karena waktu sudah menunjukkan setengah sembilan malam.

Saya tak bisa berpikir jernih, sehingga pertanyaan atau kata-kata teman saya terabaikan begitu saja (deuh, punten jiddan yah sodaraku...). Setelah selesai makan di salah satu sisi luar pasar di sebuah warung yang menghadap pantai, kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Sampai sekarang pun, saya masih berkeinginan. Semoga saya masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan ini dan dapat menjangkau mereka lagi untuk diajak belajar atau kegiatan apapun seperti dulu.

Pernah juga saya bergabung dengan teman-teman untuk mengajar anak-anak jalanan di Kampung Pemulung Stal Kuda, tapi hanya bertahan beberapa bulan. Apa yang saya rasakan berbeda, saya tidak terlalu akrab dengan anak-anak di sana, karena mereka tidak mau memperhatikan pelajaran dan sulit untuk diberitahu tentang sesuatu. Mungkin karena mereka berbeda dari segi pendidikan dan kemapanan, mereka tidak bisa saya bilang anak-anak jalanan. Orang tua mereka jauh lebih mapan, dan lingkungan sekitarnya sudah penuh dengan nuansa modernisasi. Lantas, di wilayah ini berdiri juga sebuah yayasan dari milik perusahaan minyak yang membantu pendanaan untuk kegiatan mereka.

Ya, dengan anak-anak jalanan lepas, seperti yang saya tangani di Klandasan dulu, meski mereka berada di dunia yang keras, justru mereka lebih mudah diarahkan.

Saya sungguh tahu, kemampuan saya sangat terbatas. Namun, saya ingin sekali menjadi banyak manfaat untuk sekitar saya. Mungkin ini kecil bagi siapapun, tetapi bagi saya besar nilainya, menyelamatkan generasi untuk dapat berpegang teguh pada agamanya. Sungguh miris merasakan mereka menjadi tanpa arah dan bertindak tak baik pada sekitarnya.

Ah, cita-cita kecil yang masih jauh untuk ditempuh, semoga banyak lagi yang bisa saya lakukan untuk sekitar saya di sisi lainnya. InsyaAllh...

----------------

Ya Allah, panjangkan usiaku dan perkenankan aku untuk bermanfaat bagi sekitar di sepanjang kehidupanku...


readmore »»  

Sunday, 17 January 2010

dalam do'a...

Bismillahirahmaanirrahiim...

Duhai Rabbi...
Di hari ini aku belajar banyak tentang kehidupan yang belum pernah kurasakan. Aku tahu hanyalah insan dhoif yang harus terus untuk memperbaiki diri dalam kehidupanku. Aku hanyalah insan yang mencoba untuk terus berbenah.

Yaa Allah...
Ijinkanlah waktu dan usiaku sentiasa bermanfaat di setiap nafas kehidupanku. Jika ini jalannya yang Engkau permudahkan, maka ridloilah langkah ini.
Jika ini adalah jalan berliku untuk yang kesekian kalinya, ijinkanlah aku terus bersabar dan mudahkan langkahku untuk menggapai cita di sisi-Mu.

Duhai Allah...
Aku sangat tahu permintaanku sangat banyak, tidak terbatas. Sehingga dari semua hal yang kupinta, Engkau berikan aku ujian-ujian agar aku terus Engkau tempa untuk bersyukur dan bersabar. Terkadang di tengah ujian-ujian itu, aku memohon untuk dihentikan, tetapi saudaraku mendo'akan selalau, agar aku kuat dan terus bertahan.

Duhai Rabbi...
Ijinkanlah kulalui jalan kali ini lebih mudah...
Kuatkan dan tegarkan aku untuk melangkah...
Jadikanlah akhir dari semua ini begitu indah..
Jikalaupun kebahagiaan tak kutemukan di dunia, ijinkanlah aku meminta agar Engkau menabungkannya di akhirat
Dunia hanyalah fana, biarkan ia bermain-main di mata dan kugenggam dalam ikatan fana. Sedangkan dengan akhirat-Mu, ijinkan aku bercita-cita dan menginginkannya dalam hatiku.

Duhai Sang Pencipta Semesta...
Maafkanlah kedhoifanku
Ampunkanlah kesalahan-kesalahan saudaraku, insan-insan di sekitarku dan diriku
Ijinkanlah untuk terus memperbaiki diri dalam kehidupan, jangan Engkau biarkan mereka dan aku dalam kesesatan.

Duhai Allah...
Maafkan aku hamba-Mu yang sangat dhoif
Ijinkan aku berserah diri
Bersabar atas jalan ini saat tak mudah
Bersyukur atas segala nikmat kehidupanku dan dipermudahkannya jalan ini menuju-Mu

Yaa Allah, Yaa Rahmaan...
Munajat dan do'aku
Semoga Engkau perkenankan...
Amiin... amiin... amiin, Yaa Rabbal'alamiin...

Ahad, 2 Shafar 1430 H / 17 Januari 2010 M, 21:56


readmore »»  

Monday, 28 December 2009

menyemangati diri dan sekitarku...

Aku...
"Bagaimana jika aku telah lelah sekarang dan berhenti untuk bercita-cita. Aku berada di sebuah gurun yang tidak bertepi dan kehausan yang amat panjang. Punggungku telah begitu berat..."

Temanku...
"Berhentilah sejenak... sesaat engkau akan tersadar, bahwa begitu banyak pelepas dahaga di sekitarmu..."
"Ketika orang lain berdo'a, "Ya Allah, angkatlah beban-beban yang ada di pundakku ini..." maka aku berdo'a, "Ya Allah, kuatkankanlah punggungku untuk mengangkat semua beban yang berat ini..."

Aku...
"Gurun ini sangat luas, bagaimana aku akan melewatinya. Tapi baiklah, aku akan berehat sejenak. Menyalakan api unggun dan berdo'a agar hujan segera turun. Tapi bagaimana aku akan makan?"

Temanku...
"Semua rizki Allah yang akan memberi. Allah akan mencukupi makan dan minummu. Bersabarlah, seperti ketika Siti Hajar ditinggalkan dalam sebuah kesepian tanpa batas..."

Aku...
"Maka bagaimana aku akan berhenti, sementara Allah telah mencukupi semuanya bagiku? Bagaimana aku akan meninggalkan-Nya, sedang Ia tak pernah pergi? Katakan pada dunia, aku tidak merasa lelah sedikitpun..."


readmore »»  

Wednesday, 11 November 2009

mengenang seorang Budi dan ibunya…

Budi adalah seorang teman dan juga tetanggaku. Orangnya begitu baik kepadaku, jika aku ingin belajar menyapa, maka dari dialah aku mendapatkannya. Saat teman-teman di daerahku menjauh, hanya dia yang mendekat. Entah mengajak bercanda, ngobrol dan sekedar main ke rumah. Kebetulan rumah kami tidak terlalu jauh. Hanya selisih dua rumah saja.

Saat itu dia sudah lulus STM dan sudah bekerja. Ketika dia telah selesai bermain volley dengan teman-temannya, dia mengeluh sakit. Lalu dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit terdekat. Tidak sampai seminggu, ternyata Allah SWT memanggilnya dengan begitu cepat. Ia tak pernah bercerita atau mengeluh sakit di waktu-waktu sebelumnya. Ya, empat tahun lalu...

Teman yang memberikan banyak harapan dan juga selalu riang itu, pergi meninggalkan semua. Dan aku, begitu sangat kehilangan.
Tak ada lagi yang menemani aku untuk bercanda seperti biasanya.

Lalu, sudah sekitar beberapa bulan ini, ibu Budi yang biasa kupanggil Budhe Siti, menderita sakit kanker darah. Bolak-balik keluar masuk rumah sakit, dan badannya menjadi begitu kurus. Seperti halnya Budi, Budhe Siti ini juga rajin menyapaku dan sering belanja sayuran atau sembako ke rumah.
Beliau-lah yang pertama kali kusapa lewat telepon, yang ketika pertama kali dulu aku menginjak kota Balikpapan. Di tengah malam, meminta bantuan untuk memberitahu pada orang tuaku, bahwa aku telah sampai dan menunggu di pelabuhan.
Pada usia 52 tahun, hari Sabtu lalu [7 November 2009], beliau meninggal dunia pada jam 01.00 dini hari.
Dua orang yang kukasihi sebagai tetangga itu... telah dipanggil Allah untuk selama-lamanya. Menjadikan aku banyak belajar tentang dunia mereka selama ini, sungguh membuat aku begitu kehilangan.

Ya Rabbi...
Berikanlah mereka tempat yang indah di sisi-Mu.
Amiin.

 

*kenangan tentang Budi & Budhe Siti



readmore »»  

Sunday, 8 November 2009

beginilah melangkah...


telah dua hari tiada kusapa kata-kata dalam lukisan senja

kututup mata dan bukuku, mengingat semua peristiwa di akhir-akhir ini
mengurangi sedikit rutinitas yang seharusnya bersemangat
hilang bersama angin yang menguap tanpa jejak
mungkin beginilah seharusnya langkah itu berjalan, tiada dapat terganti
karena semua telah diatur-Nya
tak henti ujian menyapa dalam ruang terdalam
tiada menyangka akan demikian
namun hikmahnya... cinta tak harus melukai satu-persatu
meski sayatnya terasa bagai sembilu
tapi berjalan ke depan adalah lebih baik untuk perjalanan berikutnya...


*menyambut hari berikutnya...

readmore »»  

Wednesday, 4 November 2009

mendamba episode baru...

Bismillah...

Di suatu waktu, aku melihat salah satu teman kerjaku sedang berjalan dengan teman wanitanya. Kulihat mobilnya terparkir dengan jelas di dekat tempat mereka berjalan. Aku hanya tersenyum sendiri, sedang mereka tak memperhatikan aku. Tampaknya akhir-akhir ini, memang aku sering melihat mereka berdua.
Esoknya, kuolok temanku itu, “Wuih, kalo udah berdua aja, lupa ama dunia lain? Hehe…”
“Yang mana, Mbak…?”
“Kemarin di Sepinggan. Yang waktu kamu pulang lebih cepat dari kita-kita…”
“Ooh, yang itu… makan bakso, Mbak…” katanya cengar-cengir.
Lalu dia mendekatiku dan berkata, “Mbak, dia itu non-muslim.”
Setengah sendu dia berkata begitu. Aku terdiam saja. Bingung, mo ngapain. Hanya dalam hati mendo’a sesuatu.

 
Waktu berselang, kira-kira telah ada sebulanan.
“Pak, punya putra atau putri yang usia remaja, nggak? Beli buku saya ama teman-teman, ya?” kataku pada seorang bapak yang kukenal baik, satu tempat kerja dan sering bersama teman yang kuceritakan tadi.
“Ada, dong. Buku apa?” tanyanya lagi.
“Buku antologi cerpen… bla…bla…” kujelaskan panjang lebar mengenai buku itu dan mengenai FLP.
“Boleh… boleh, berapa harganya. Uangnya sekarang-kah?”
“Besok ya, Pak. Uangnya juga besok saja.”
Lalu temanku yang pertama tadi berkata riang padaku.
“Mbak Likah, punya buku tentang mualaf, nggak?”
“Wah ada, kamu mau dipinjamin?” kataku antusias.
Teman-temanku yang lain, yang ada di situ langsung tahu tujuan dia bertanya seperti itu.
“Besok kubawakan sekalian. Ada beberapa, tapi kalo kamu mau beli di toko buku juga ada. Cuman udah lupa harganya, karena waktu itu aku beli di Jogja,” kataku lagi tak peduli dengan yang lain.
“Asyik... bawakan ya, Mbak. Kalau pesan bisa, nggak?”
“Bisa aja, tapi lebih baik kupinjami aja dulu, yah? Entar, kamu tinggal pilih yang mana, yang kamu suka untuk dihadiahkan,” aku jadi berbunga-bunga, bercerita tentang buku dan mualaf.

Hari ini, kubawakan kedua buku itu. Sepulang kerja kemarin telah kusiapkan dengan seksama.
Yaa Rabbi... mudahkanlah perjalanannya karena-Mu saja.
Jika ia membantu menuju jalan cahaya-Mu itu... sungguh berikankanlah yang terbaik untuk mereka...

Kuhadapi hari dengan sedikit ceria. Tentang mereka. Aku berharap dan menunggu hidayah segera tiba pada hati ia yang dicinta, meski memang dengan cara lumrahnya anak muda. Tapi aku berharap dan mendo’a. Bismillah...

readmore »»  

Thursday, 29 October 2009

mengapa...?

Sapamu selalu kurindu
Tawamu adalah pelipurku
Ceriamu adalah harapanku
Tapi mengapa kini mengering..?

Telah marahkah engkau padaku..?

*
bertanya atau merasa...?*

readmore »»  

Monday, 12 October 2009

[curhat] - Galaksi dan Cameron...

Bismillah…

Dua nama di atas adalah saya ambil dari dua judul buku, yaitu Galaksi Kinanthi dan Dua wajah Cameron. Tak ada yang istimewa, namun bukan berarti buku-buku itu tidak istimewa. Saya sangat salut dengan bahasa yang mudah dicerna itu. Two thumbs untuk kedua buku tersebut.

Jadi… mengapa mengambil judul dari dua buku itu…?
Tidak lain dan tidak bukan, dari isi ceritanya itu yang sedang begitu mengusik saya, gelisah, menangis, ketakutan menjadi satu. Seolah-olah mimpi buruk, telah datang kembali pada saya. Saya bahkan berusaha menyelesaikan bacaan hingga selesai, sambil sesekali menyeka air mata. Meski memang mungkin tak sanggup, tapi saya berusaha mencari ending yang tepat dengan gambaran saya sendiri.
Bahagiakah? Atau sebaliknya?
Maka saya terus saja berusaha menyelesaikan untuk membacanya.

Baiklah, mungkin Anda sedang bingung…
Tidak… tidak… saya tidak bermaksud begitu. 

Likah... bukankah itu hanya berupa fiksi saja?
Mengapa begitu mengusik jiwa dan ragamu?
Begitu mungkin pertanyaan Anda kepada saya sekarang ini?
Baiklah, akan saya ceritakan dulu hal lain sebelum kembali pada dua judul buku tadi.

Sejatinya... saya sudah menyelesaikan tulisan sebuah cerita, oh tidak...
Tepatnya saya berikan imbuhan, “sebuah kisah kehidupan,” setelah judulnya.
Sudah saya jilid berupa buku, dan tinggal mengirimkannya ke penerbit, itupun jika laku. Tapi kata teman-teman saya, sebaiknya disegerakan.
Di satu sisi, saya begitu semangat menyelesaikannya, karena niat awalnya adalah berbagi. Namun setelah saya membaca Dua Wajah Cameron (sudah agak lama waktunya, saya sudah terlupa) dan Galaksi Kinanthi (beberapa hari ini dan belum selesai), tiba-tiba saya jadi gemetaran di tengah-tengah tulisan saya sendiri.

Ya... itu karena dua kisah pada dua buku itu, hampir mirip dengan kenyataan yang saya alami, meski tidak membuat saya sampai gila atau keadaannya separah itu cerita pada dua buku itu. Tidak. Sekali lagi tidak.

Mungkin hanya pernah mengalami frustasi dan kesedihan yang amat sangat, membuat saya suka menangis diam-diam dalam pojokan kamar, bahkan banyak hal yang membuat saya lebih banyak diam hingga sekarang. Sudah lama, saya akan sulit menemukan teman yang mudah untuk diajak berbincang. Menemukannya pun satu dua saja yang terlampau dekat, pada yang lain seperti sulit bagi saya untuk mempercayai. Tentu bukan berarti tidak mempercayai kebaikan dan hal lainnya, namun entahlah. Saya selalu begitu. Mungkin akibat itu, saya lebih banyak dijauhi daripada didekati. Meski sebenarnya saya tidak terlalu memilih-milih teman. Kecuali hal tadi.

Saya bahkan juga pernah terisak di depan teman psikolog. Menumpahkannya memang sedikit lega, meski hari-hari ke depan, masih saja ada aktivitas yang sama. Saat itu saya tak peduli. Saya hanya ingin bercerita.

Ya, tepatnya kini... banyak teman yang memberi dukungan pada saya untuk tetap berdiri sampai saat ini. Banyak yang memberikan kesempatan kepada saya untuk terus berkarya, daripada menengok pada masa lalu. Tapi, tentu semua ingatan buruk itu tidak bisa terhapuskan begitu saja dari pikiran.

Karena itu, saya mencoba berbagi dengan kisah itu. Ingin memberikan semangat dan harapan, bagi siapapun. Bahwa ujian hidup yang mungkin terasa berat ini, sesungguhnya adalah ujian untuk iman yang sedang disematkan di hati. Meski siapa saya, atau terlepas dari siapa Anda?
Para petinggi, profesor atau hanya pembantu rumah tangga sekalipun, semua adalah sama di mata Allah. Tidak akan ditanya lulusan apa, bukan?
Namun, bukan berarti saya akan mengetengahkan itu? Bukan...
Bahwa itu adalah hak Allah dalam memberikan keputusan kelak kepada insan.

Saat ini...
Apa yang ada itu, hanya untuk berbagi...
Semoga saya bisa segera pulih dari ketakutan sendiri tentang hal-hal yang telah lalu dan juga bangkit untuk bersemangat lagi dalam berbagi.
Maka, apa yang ada di fiksi... terkadang secara tidak langsung, itu jugalah yang menjadi kenyataan pada yang lain. Meski ada beberapa perbedaan.

Semoga Allah memudahkan langkah ke depan...


readmore »»  

Thursday, 24 September 2009

beribu maafku untukmu di sana...

Bismillah...

Wuah, hari ini hari Jum'at... ya, iyalah kemarin Kamis, hihi... rada error pagi-pagi nieh...
Hmmm, yeah... ane mo bercerita hal yang membuat diri sendiri pengen terus bermuhasabah. Tsaaah... tobat mah, ceritanya...
Eh, udah lama kok tobatnya... ^^

Bermula di mesin fotocopy, eh... di sebuah toko alat tulis plus jasa fotocopy maksudnya...
Hari itu, kira-kira dua tahun silam... rada lupa... ane bertemu teman yang keknya udah pernah dikenal. Tapi yang jelas, ane lebih banyak lupanya, mah... hehe... nah, tuh insan lagi pasang brosur gitu dah di dinding, pas ane mo keluar dia nyapa...
Akhirnya ane baru inget orang siapa. Itu keknya kesekian kalinya ketemu...

Lalu tanpa perantara, dia nyelonong ajah pengen jadiin ane 'istri'...
Hii, lum kenal bener sieh... tapi orangnya baek, en temannya dia juga ada teman ane juga. Akhirnya ane bilang ke murobbi ane perihal ini, biar ada penyelesaian dengan baik. Murobbi mencoba hubungin munakahat, sementara ane udah ketar-ketir.
Deng-deng... sekian waktu berjalan, murobbi ane ternyata pindah ke Surabaya, karena suaminya diterima kerja di sana. Sementara ane belum ada kejelasan waktu buat ngejalanin ini dengan sebaik-baiknya... kepikiran, apa langsung ke orang tua ajah ya...

Lalu ane nyoba komunikasi ama ortu, serius ditanggapi... yang pastinya meng-iya-kan, gituh...
Syukurlah... lalu ane komunikasi lagi sama tuh insan di sana... tahukah jawabnya sodara-sodara tercinta...?
DIA BELUM SIAP, bahkan ane disuruh nunggu dia ampe sekian waktu yang belum pasti... jelas ane nggak mau... kalo sering komunikasi meski via handphone en gak ketemuan, tetep aja itu kek pacaran, yah... menurut ane, sieh...

Akhirnya ane putuskan bulat-bulat... ane gak akan menunggu dia lagi... dan dia gak ada ngubungin ane lagi setelah itu...
Pokoke beribu maaf dah untuk semuanya, jika ane begini... bukan bermaksud menyakiti, melainkan untuk menjaga diri dan juga tak mau kalo harus begitu... maaf sekali lagi dah...

Hehe... begitulah ceritanya... wuah, banyak mah yang ceritanya mirip kek gini terjadi pada diri ane... kebanyakan pasti akan bilang dalam sholatnya tak muncul pertanda, sudah ngajuin proposal en nunggu sekian bulan lantas bilang lum siap... piye iki...?

Hehe, inilah sekelumit cerita yang gajebo mah... tapi bersabarlah...
Kata sodara-sodara ane... indah pada waktunya... akan mendapatkan yang lebih baik dari semua itu...
Semoga...

Ditutup juga dengan do'a, kek MP kemarin, hehe...
Yo wislah, semangaaaaaaaaad... ^^

08.53
Jum'at, 6 Syawal 1430 H / 25 September 2009 M
[di ruang kerja yang dingin... di pagi hari...]
readmore »»  

Wednesday, 23 September 2009

dan itulah aku...

Bismillah...

Aku tahu... banyak hal kecil yang mungkin menurut orang lain tak penting. Tapi bagiku, sekecil apapun itu, semuanya begitu menakjubkan, begitu menginspirasi.
Jika kau tanya, “Mengapa urusan remeh temeh itu begitu berarti bagimu?”
Maka jawabanku akan selalu sama, teman... “Tak ada suatu kebetulan, dan hal-hal kecil adalah penyempurna, pelengkap untuk hal-hal yang besar. Semua adalah harmoni yang sudah teratur sedemikian rupa, untuk dipikirkan dan dipahami. Betapa agungnya semua itu dari hasil cipta reka Yang Maha Kuasa.”

Ah, teman...
Aku memang bukan anak-anak lagi, meski kuanggap gelembung sabun amat indah, atau tiupan angin begitu sempurna menyejuk... alam ini... hari-hari selalu indah, meski deras hujan selalu dikeluhkan.

Hmmm, mungkin engkau tak memahami jalan pikiranku, tapi itulah aku... mengagumi segala hal dari sudut pandangku secara sederhana. Sesederhana diriku yang bukan siapa-siapa...
Mungkin engkau terheran-heran, bahkan menganggapku aneh, tapi aku hanya selalu mencoba hari-hariku begitu istimewa dan berseri, mencoba mensyukuri apa yang ada... bahwa sepiku... bahwa sedihku... harus terhapuskan dan tetap berseri...

Hanya itu teman... dan itulah aku...


06.55
Senin, 2 Syawal 1430 H / 21 September  2009 M


readmore »»  

Dan jika engkau telah datang nanti...

Bismillah...

Jika engkau datang nanti...
Telah kupersiapkan singgasana terindah di hati
Kubawakan sajak puisi pengiring hari
Pelipur lara pengganti duka
Agar hari-hari yang akan terlalui indah bersemi

Jika engkau datang nanti...
Ajarilah aku mencintai sepenuh hati pada Illahi
Menabur semai dan berbuah ridlo
Serta nasihati aku kala terlalai
Maka ‘kan kutaati dan mengabdi karena-Nya
Tunjukkan jalan terindah menuju-Nya

Jika engkau datang nanti...
Telah kudo’a sepanjang waktu
Agar masa-masa yang terlewati
Diarungi tanpa pedih
Meski gelombang akan menerjang perahu sampan kita
Semoga semua dipermudah oleh-Nya

Dan jika engkau telah datang nanti...
Engkaulah penyempurna
Meski aku bukan Cinderella
Bukan pula akan memberikan banyak harta dunia
Aku hanya bisa memberi keikhlasan cinta karena-Nya
Dan akan selalu mengayuhnya dengan sahaja...


“Ya Allah... semoga do’aku dan do’a-do’a mereka yang kucintai pada 1 Syawal ini, Engkau perkenankan... Engkau permudahkan...”

16.52-17.04
Ahad, 1 Syawal 1430 H / 20 September 2009 M


readmore »»  

Thursday, 17 September 2009

kartu lebaran untuk semuanya... ^^


Assalamu'alaikum...


jika kemarin adalah rangkaian kata-kata...
sebelum esok saya tidak online... tidak posting-posting...
maka semoga ini mewakili...
mendadak dibuat untuk semua saudara, dan teman fillah...


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430
Minal Aidzin wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin


Salam,
Syafa-Likah-Azizah



readmore »»  

teriring do'a menyambut Idul Fitri... untuk semua sahabat dan saudara... dimanapun berada...^^

Bismillah...
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

Untukmu teman... teriring salam...
Semoga hari-hari Ramadhan yang terlalui dapat menambah keindahan iman kita kepada-Nya. Segala ucap dari lubuk hati, semoga diperkenankan untuk mengucap maaf atas segala khilaf, salah yang pernah ada. Maka saat tak bisa berjabat tangan, kupersembahkan kata yang mungkin tiada arti, namun begitu berharga bagiku...

Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H

Selamat berlebaran bersama keluarga, sanak family, kerabat, saudara dan rekan-rekan lain dalam naungan cinta Illahi...
Kumendo'a semoga kita dapat terus mengikat erat tali ukhuwah ini selamanya hingga ke akhirnya... amiin...

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

Salam,
Syafa-Likah-Azizah
readmore »»  

Sunday, 13 September 2009

dua insan yang selalu kucintai...

Dua insan itu mengarung bahtera kehidupan bahagianya... meretas ujian-ujian yang menyerta, dan setia hingga ke akhirnya.
Ia... seorang lelaki sahaja, wibawanya menghenyakkan masyarakat sekitarnya, menoreh sejarah indah, penuh pengabdian pada dunia pendidikan dan keluarga. Satunya... wanita yang mudah terhisap kemarahan, namun tak bertahan lama, terdidik dari dunia pendidikan juga yang menyertainya hingga akhir hayat.

Dua insan ini mengucap janji setia... sehidup semati...
Meski tiada mempunyai keturunan, tetapi janji setia tetap terpenuhi.

Masa berlalu dengan indah... hingga kemudian aku juga ikut hadir, tanpa aku mengetahui keadaan sebenarnya...
Ah, saat itu... aku bahkan tak bisa membayangkan duniaku yang dulu suram tanpa masa depan, tanpa mereka...
Aku telah menempuh tempaan keras... lembut dan segala dari mereka.
Dan aku berkeinginan... bahwa kelak... aku bisa memberikan yang terbaik seperti yang telah mereka ajarkan kepadaku...

Mereka adalah ayah dan ibu angkatku...
Tapi selayak orang tua sendiri... telah meninggal pada sekian tahun yang lalu...
Sejak usiaku dua tahun, hingga aku besar... merekalah inspirasi kehidupanku... latihan ketegaran, kesabaran, kesahajaan... adalah dari mereka yang selalu akan kucintai sepanjang masa...

di saat kumengenang kisah itu...
24 Ramadhan 1430 H / 14 September 2009 M

readmore »»  

Tuesday, 8 September 2009

tentang Ramadhan...

Tentang Ramadhan...
19 Ramadhan 1430 H / 9 September 2009 M

Bismillah...

Alhamdulillah, hingga hari ini kita masih menjalani bulan indah penuh hikmah, Ramadhan...
Dari jauh hari dengungnya sudah membuat anak-anak kecil pun turut bersuka cita, selain bisa main mercon dan kembang api, juga dalam benak mereka, pasti Lebaran adalah hari yang menguntungkan, hehe...
Sedang yang untuk insan dewasa, yah... pasti sudah mafhum daripada saya... ^^
Tempat mencari banyak amalan serta mengejar sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang lebih baik lagi. InsyaAllah...

Yupz, membicarakan Ramadhan, tak terlepas dari aktivitas buka bersama, baik temen-temen kantor, temen-temen MP, atau yang lainlah... keluarga gitu, hehe...
Secara, ini yang paling ditunggu atau juga merupakan ladang amal bagi yang memberi buka pada orang yang berpuasa. So, banyak yang berduyun-duyun menyambut buka puasa bersama ini.

Nah, bukan pada hal itu saya ingin membahas, melainkan... beberapa waktu ini saya jadi suka berpikir sendiri, halah...
Terkadang dalam hati bertanya... apakah acara berbuka puasa itu, kemudian sekaligus mengunjungi tempat-tempat seperti panti asuhan dan lain-lain, haruskah pada saat Ramadhan saja?
Bahkan ada beberapa panti yang sudah penuh jadwal untuk berbuka bersama dengan para donatur yang membludak pada bulan ini untuk saling memberikan yang terbaik. Hmmm, kadang hati merasa sedih juga... padahal justru kebutuhan mereka (panti-panti itu) tidak hanya pada Ramadhan saja, di hari lain, kebutuhan mereka lebih banyak tentunya.
Yah, memang ada donatur tetapnya, namun untuk jumlah yang lebih banyak...? Tentu ya di Ramadhan ini... mencari banyak peluang amal yang Allah berikan selama Ramadhan.

Entah ini dari saya pribadi sendiri, atau bagaimana yah...?
Tapi semoga tidak hanya pada Ramadhan saja dapat berbagi, dan saya yakin semua dilakukan dengan tulus, maka semoga di hari lain yang bukan Ramadhan, amalan itu tidak berkurang meski sedikit... bahwa Allah menyukai sesuatu amalan yang sedikit tapi konsisten.
Wallahu'alam...

Tetap semangat...!!! ^^


readmore »»  

Monday, 24 August 2009

[Solo - Jogja II] - My first experience with plane...

My  first experience with plane...
1 Ramadhan 1430 H / 22 Agustus 2009 M
di sela puasa yang indahnya tiada terkira...

Bismillah...

Masa itu telah berlalu dan masih terngian-ngiang dalam ingatan. Tsaaah... apaan?
Ya, ternyata setelah dilewati... banyak juga kenyataan tak seburuk yang dibayangkan.  Atau sebaliknya, itu pengalaman yang unik sekaligus menggelikan dan cukup memberi pengertian tentang arti penerbangan bagi ane pribadi...
Maklum kala itu memang My first experience with plane, hehe... rada heboh...

Tak dinyana tak disangka... sejatinya pesawat pertama yang mo ane tumpangi diperkirakan sendirian saja, ternyata teman-teman dari daerah lain juga naik pesawat yang sama. Padahal informasi sebelumnya akan berbeda pesawat tapi berangkat pada jam yang sama dan tiba pada jam yang sama pula di Jogja. Ya iyalah...

Sebelum memasuki ruang tunggu di bandara, ane sudah disapa teman baru dalam perjalanan. Seorang saudari yang akan membangun FLP di tempatnya tinggal. Syukurlah, kemudian akhirnya berlima dalam satu pesawat dengan tempat duduk yang tak berjauhan.
Jujur dan tulus dari lubuk hati, ane sempat ketar-ketir juga... ini benar pesawat yang akan ane tumpangi? Weleh-weleh, gedhe juga... hihi, ndheso banget ane...
Hari kemarin sebelum berangkat, seorang teman memastikan apakah ane baik-baik saja dan sudah siap? Ane jawab saja udah... ngasal... antara siap dan gak siap... kek orang mo kemana gituh rasanya, hehe... padahal cuman mo naik pesawat... halah-halah...
Ia juga memberi info seputar administrasi apa yang musti dilalui, ini itu... hmmm, semoga dimudahkan... bismillah... ane berangkat (setelah bernarsis ria)...

Tempat duduk ane ternyata paling belakang, nomor 25A. Dalam hati kepikiran pengen duduk ama temen akhwat tadi (nama rahasia, hihi...), tapi kok gak enak... ane memilih duduk dekat jendela, jadi bisa leluasa melihat pemandangan di luar jendela, maunya... sedang dua tempat duduk, diduduki dua orang laki-laki muda yang tak dikenal. Lhah, emang ane udah tua apa yah...?

Rada gak nyaman juga...
Di dalam pesawat gak ada ngomong, gak ada baca buku... kelupaan saking gugupnya, buku-buku bacaan ada di tas ransel. Ya udin, baca-baca majalah yang ada di situ... eh, isinya malah berupa gambar-gambar souvenir jualannya pramugari pesawat, alamaaak...
Ane taruh lagi dah...
Melihat keluar, ada banyak pemandangan... mula-mula kota Balikpapan yang kian mengecil, en tiba-tiba pesawat udah berada di atas awan yang berbentuk es-es padat. Subhnallah indah banget... pengen moto, tapi tuh kamera juga di tas ransel... halah...
Seru banget ngeliatnya, tapi mendadak pusing dan segera mencoba pejamkan mata.
Tapi ternyata gak bisa juga tidur...

Lalu datang pramugari memberi sarapan berupa roti dan minuman gelas yang biasa ditemui. Belum berani makan, bahkan gak berani bergerak sedikit pun... tersiksa juga meski bisa aja bergerak tapi tempat duduknya kok sempit nian. Kepikiran kenapa tadi milih duduk di situ yah...?
Mendekati Pulau Jawa... tiba-tiba telinga sakit bukan main, bercampur lidah kaku tak bisa digerakkan, plus pusing. Subhanallah... bukan main rasanya...
Dari awal keberangkatan, ane selalu berdo’a, moga-moga gak kejadian apa-apa karena beberapa saat pesawat sempat bergoncang ditambah rasa sakit di telinga yang kian menjadi-jadi.

Wah, ane serius bener ceritanya... ya iyalah, ini menegangkan bagi ane, entah bagi pembaca, hehehe...

Rasa sakit belum mau berhenti, kedua tangan menutup telinga... gak kuat... subhanallah... sempet diceritain temen, kalo pas pesawat mo landing gitu, dia ngeluarin air mata secara tiba-tiba karena frequensi yang tinggi dalam pesawat. Kalo ane mungkin ini yang dirasakan...
Gunung-gunung sudah nampak dan terlihat menembus awan Pulau Jawa (berarti tinggi banget tuh gunung, yah... tapi gak tahu namanya...).
Pesawat sudah akan mendarat... sakit telinga tiada terkira... rasanya mo nangis saja saking sakitnya... dan terus berdo’a dalam hati. Namun rasanya hati tak tenang sama sekali... karena kabut tebal menyelimuti pesawat yang akan mendarat. Di sebelah kanan dan kiri pesawat, ane lihat kabut-kabut itu tebal bukan main, bahkan pesawat bergerak berputar dan miring ke kanan...
Ya Allah, mudahkan perjalanan ini dan ampuni segala khilaf... do’a hati tak putus-putus meminta kebaikan...

Alhamdulillah...
Setelah sekian waktu melewati kabut tebal itu, pesawat pun mendarat dengan sempurna. Maka semua orang turun, kecuali yang mo tetep tinggal di pesawat, hehe...
Maka ane dan temen-temen bergegas ke tempat pengambilan barang yang sebelumnya tersimpan di bagasi pesawat. Lantas menuju pintu keluar setelah semua selesai...

Dan... jam masih pagi, nambah satu jam lagi lebih awal, hehehe...
Telinga masih sakit dan seperti tuli hampir sekitar satu jam-an, padahal udah di darat ini... dan menunggu teman dari Jogja menjemput... lamanya dua jam... subhanallah...

Sambil menunggu jemputan datang, kami pun memesan minuman hangat di kawasan bandara, harganya mahal-mahal banget, gak ada bedanya dengan Balikpapan... ane dan temen akhwat masing-masing a cup of cappucino... hahaha, lucu... tuh cappucino rasanya tetep pahit meski udah dikasih dua bungkus gula pasir... hayah... datang dari kota, tapi kok malah ndheso gini... jadi malu... ane ma tuh akhwat tertawa berdua menangkap situasi kendhesoan kami... unik plus carut-marut pikiran, antara menanti dan kepala yang sudah makin pusing. Rasanya mo segera nemu tempat tidur dan berbaring sepuasnya, karena memang tiga hari sebelum keberangkatan, ane sakit sampai waktu mo berangkat diserang demam tak henti... subhanallah...

Begitulah perjalanan ane dan pengalaman ane pertama naik pesawat...
Entah apa yang terpikirkan dalam hati... pokoke begitulah naik pesawat... hehehe...

Kisah selanjutnya di Jogja dan Solo? Ditunggu... sabar yah...
readmore »»  

Wednesday, 5 August 2009

[Solo-Jogja I] - ternyata, ye...^.^

Bismillah...

Duh, lamanya gak posting-posting... rada-rada ora sempet, hehe...
Nah, apalagi kegaduhan saat ini yang akan terjadi atau sudah terjadi... lhah, emang ngomongin apa sih ini...?
*radalemotdotcom*

Yupz... menjalani hari akhir-akhir ini badan itu pegel-pegel kek abis dipukulin rame-rame, udah gitu saban waktu banyak yang musti dikerjain, mo di rumah atau di organisasi. Puzing juga ternyata... halah...
Amanah ini amanah... ayo semangat...!

Tapi sodara-sodara sebangsa setanah air... diem-diem aja yah, ane malu jiddan euy... en gak boleh ketawa, kecuali tanpa ketahuan ane, qkqkqk... ane
Entah kenapa ane terkena insomnia akut sejak pekan lalu. Hmmm, bukan karena sibuk nulis lagi tengah malem atau musti baca sms yang masuk en ngebales lagi (makasih yang dah ngasih ingatan untuk sholat, moga-moga selalu dalam ridlo Allah...), kok jadi serius gini yo...

Masalahnya adalah...






































deng-deng...








































Ane itu lum pernah naik pesawat...
Lhah, hubungannya apa ama insomnia ane yang udah akut ini...?
Itu dia... ane kan ngikutin MUNAS FLP di Solo, dan ini adalah my first flight gitu, lhoh...
Jujur deg-degan, halah... ketahuan ndeso-nya ini... hush, jadi mo ketawa juga...

Lha wong pertama ke Balikpapan itu aja ane naik kapal laut juga udah ketar-ketir, moga-moga gak naik kapal laut lagi. Amiin...
Yooo, ane yang biasanya pemberani kalo lagi di hutan buat menjelajah ini, atau tengah malam suka lembur buat nulis, etc... ternyata takut naik pesawat, hahahaha...

Yah, apa daya... ora popo wis... daripada dan daripada malah ane gak bawa banyak manfaat buat temen-temen (rada gaya, gituh... sok dibutuhkan...), ya udin... ane akan berangkat dengan tekad bulat penuh perjuangan... hahahaha...

Yupz... semangaaaaaaaadd... Allahu Akbar...!!
readmore »»  

Friday, 31 July 2009

alhamdulillah... ^^

Bismillah...

Yeah, memulai hari dengan ceria... alhamdulillah...

Puji syukur kehadirat Allah SWT... (serius...)

Yeah... tadi pagi menyaksikan akad nikah temen, dengan suasana syahdu... dia dinikahkan kakaknya sendiri, dan pertemuan dengan sang ikhwan melalui jalur keluarga, kemudian empat kali pertemuan, dan yang keempat adalah di acara walimahnya hari ini...

Udah gitu ketemu banyak temen, sampai ane dipeluk erat beberapa kali ama temen yang udah lama gak ketemu (padahal mah sama-sama tinggal di Balikpapan...). Ysh, udah gitu pake acara ane disuruh kasih sambutan... hiyaaah, kagak siap... gemetaran tangan ane, qkqkqkqk... alhamdulillah lancar...

Jam mendekati Dzuhur, ane meluncur ke tempat temen kantor yang aqiqah di rumahnya, melaju cepat... cuman lima menit, afwan... hehehe, soale mo ada siaran jam satu... ya udah, segera pergi lagi ke tempat siaran... eh, ternyata radio lagi gak bisa siaran... hehehehe, ya udah abis sholat terus nulis-nulis ini...

Yo, alhamdulillah... semalam ane mimpi indah, tapi udah lupa... hari ini semoga banyak keberkahan melingkupi kita semua... amiin...

Alhamdulillah juga, tulisan ane gak gajebo, kan...? Gak tau entar kalo udah kumat... hiyaaaah... owkeh, semangaaaaaaaaaaaadd...!!

 

readmore »»